Udah lama ga ngetik di Blogger. Kalau ada yang masih baca, mau ngumumin aja saya sudah punya podcast di Spotify yang berjudul NYAMPAH GARUS, podcast nyaman yang semoga keurus. Bisa langsung dibuka dan dicari atau klik link ini: https://open.spotify.com/show/1Z6j6wwh5dup1qoWxu9LgL?si=Lh6RAxMVRgGEsxLlV2JI_g. .Selamat menikmati!
COVID-19, sudah sekitar tiga bulan physical distancing dilakukan, setidaknya bagi yang masih berfungsi otak dan nuraninya, saat saya mengetik blog ini. Wabah yang diharapkan hilang sebelum bulan suci Ramadhan tiba ternyata masih ada saja, bahkan di Indonesia makin besar pertumbuhannya, sudah sama-sama tahu lah karena apa (yang masih jawab gara-gara Cina awas aja). PSBB yang harusnya sudah berhenti secara resmi di tanggal 4 Juni 2020 diperpanjang di berbagai daerah yang tingkat pertumbuhan kasusnya masih cukup tak terkendali. Mungkin pemerintah Indonesia harus panggil Katara dari TV series Avatar: The Legend of Aang biar bisa di-bloodbending se-Indonesia, dicabut noh virusnya ama Katara.
Yaa asal jangan pas udah dicabut, jangan ditaro di laut virusnya. Kasian turis-turis Bali kalo gitu caranya.
Prinsip saat berkecimpung di bidang baru masih sama di benak saya, jadi diri sendiri aja. Sama seperti di blog ini, dimana mungkin ketikan saya ada yang tidak berkenan di hati, saya mohon maaf terlebih dahulu...
...TAPI MEMANG KELAKUAN WARGA DUNIA NGESELIN SIH.
Eh tapi gini, saya masih heran tentang mall. Kenapa di tengah imbauan PSBB mereka buka? Mungkin pertanyaan yang terdengar bodoh jika ditanyakan ke yang ngerti manajemen mall atau apalah, tapi seriusan saya ga ngerti, kenapa. Mungkin ada yang memiliki keheranan yang sama, tolong tanyain lahh, atau kalo ada yang ngerti bisa langsung komentar di bawah (emang bisa? lupa gua) atau di media sosial saya. Karena kalau saya sendiri sihh sebenernya bisa "tahan godaan" kalo mall dibuka, kalo bioskop dibuka, apalagi kalo kampus dibuka (ups). Saya mah males proses perawatannya kalo amit-amit kena, TAPI MENGAPA ADA MANUSIA BERJUBEL SEGITU BANYAK HEY??!!
Pada heran ga sih, gua herannya lebih ke arah "Anda-anda lupa sekarang sedunia ada apa, oe? Emang anda-anda kira kalo kena coronavirus pengobatannya semudah cabut gigi di dokter gigi? Mereka kalo ngaku kurang info, ke mall itu udah bisa diasumsikan ekonomi menengah, masa ga punya smartphone? Ga baca berita di Google?" Atau TV lah minimal, kalo masih ada yang pake.
Karena ketidaktahuan saya ini, saya berasumsi mungkin mall dibuka khusus yang bener-bener butuh aja. Masalahnya, kalau pun iya mau beli baju lebaran, takut ga pas atau gimana-gimana kalau beli online, ya masa sepenting itu baju lebaran untuk saat-saat ini? Atau, merayakan tutupnya sebuah restoran makanan cepat saji yang legendaris itu dengan langsung mendatanginya, anda pikir cuma anda yang punya kenangan sama tempat itu ya. Orang lain juga, tapi mereka harus menahan diri agar ga nyebarin virus. Sekarang saya tanya, kenapa memori anda lebih penting dari pandemi? Harus banget ya melampiaskan ego sendiri dengan berkumpul di saat kaya gini? Ide ini telat sih disampaikannya, tapi buat kejadian serupa, saya saranin aja karyawannya livestreaming hari terakhir kerja, atau dari pihak restoran membuat sebuah video kenangan yang di-upload di YouTube dan aplikasi sejenis. Kan mendingan gitu daripada harus kumpul-kumpul kaya gitu. Udah sesek, ga tau lagi siapa aja yang positif di kerumunan itu, ngeri.
Anjay udah separagraf itu.
Tahu ga sih pengaruh dari kejadian ini apa? Beberapa oknum dari agama tertentu (terutama yang itu tuh) mengambil kejadian-kejadian ini dan...yaa semoga aja bukan kalimat provokasi, mendesak tempat ibadahnya untuk dibuka karena melihat mall dan restoran dibuka dan banyak yang kesana, tapi tempat ibadah agamanya sepi.
MAKANYA DIEM DI RUMAH. PSBB BUKAN BUAT PEMERINTAH, SUMPAH.
Pemerintah, tenaga medis, dan yang wajib masuk kerja aja, apa susahnya diem di rumah sih? Orang biasanya aja mageran :(
Malah gua lihat jadi banyak yang makin kreatif dengan di rumah aja, walaupun kreatifnya sebatas upload di TikTok tapi seenggaknya diem di rumah gitu. Atau bikin teori konspirasi, selama itu bersifat hiburan dan tidak persuasif (kaya si itu tuh).
Tapi ya beginilah saya, marah-marah tanpa solusi. Saya hanya bisa memberikan solusi untuk anak-anak muda saja, dengan saya tetap sadari bahwa yang benar-benar merasakan akibat atau impact dari pandemi ini, selain pemerintah karena disalahin mulu, adalah akademisi, pelajar, orang-orang dewasa yang sudah memiliki pekerjaan (terutama yang bekerja di luar/outdoor), atau orang dewasa yang kehilangan pekerjaannya karena pandemi. Saran yang saya berikan ke mereka tidak bisa lebih dari ini:
Pakai masker dan bawa hand-sanitizer apabila terpaksa bekerja.
Terjunlah ke dunia ekonomi kreatif. Zaman sekarang dan situasi sekarang sangat penting memahami internet.
Belajar membedakan mana berita asli dan palsu (saya tahu akan sangat berat untuk ibu-ibu pengguna WhatsApp). Saya sarankan follow/ikuti akun jabarsaberhoaks di Instagram, laporkan berita yang berpotensi hoaks melalui hotline yang disediakan mereka.
Udahan ah. Semoga Allah bersama kita. Aamiin.